Berita Terkini
Berita Lain

Makna Ruwatan Dalam Ajaran Ilmu Kasampurnan

Ruwatan berasal dari kata ruwat yang menjadi luwar yang berarti terbebas atau terlepas dari semua jenis mala petaka yang disebabkan oleh Sukerta dan Sengkala. Ruwatan Sukerta adalah ruwatan bagi anak yang terlahir sebagai anak tunggal (ontang- anting), dua bersaudara lelaki semua (uger-uger lawang), dua bersaudara perempuan semua (kembang sepasang), tiga bersaudara satu perempuan ditengah (sendang kapit pancuran) dan lain sebagainya, juga menghilangkan ‘aib’ dan ‘karma leluhur’, yang pada dasarnya ruwatan ini bersifat permohonan agar anak tersebut selanjutnya mendapat keselamatan dan kebahagian di masa depannya. Ruwatan Sengkala ruwatan bagi orang yang dalam perjalanan hidupnya mendapat kesialan atau hambatan dalam rejeki, karier, jodoh, serta kesehatannya.Termasuk didalamnya adalah bagi pasangan suami istri yang mendapat gangguan dalam kehidupan pernikahannya oleh kehadiran orang ketiga atau godaan-godaan lainnya.Ruwatan itu mengembalikan ke keadaan seperti sedia kala, maksudnya keadaan sekarang yang kurang baik menjadi baik. Contohnya orang yang lagi sakit menjadi sehat. Makna lain yaitu membebaskan segala sesuatu dari mara bahaya yang menjadikan sial atau sebagai tolak bala. Inti acara ruwatan adalah ‘berdoa’ mohon keselamatan kepada Allah dan ‘bersedekah’. Dalam kehidupan masyarakat moderen sekarang ini, tradisi ruwatan sampai saat ini masih relevan karena merupakan sebuah hasil produk kebudayaan peninggalan Nenek Moyang kita yang adiluhung. Relevansi dalam kehidupan saat ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa manusia pada dasarnya menghadapi dua pulihan, yakni perilaku baik dan perilaku buruk. Juga berusaha untuk menjaga keseimbangan, keselarasan, dan keharmonisan dalam alam semesta, supaya tidak terjerumus pada perilaku yang tidak baik. Selain itu ruwatan merupakan ritual atau bentuk budaya spiritual yang dianggap mampu menangkal malapetaka, lebih mendekatkan pada Sang Pencipta, usaha untuk membangun keselarasan dan komunikasi antar manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, serta manusia dengan alam, dan mengutamakan keluhuran budi pekerti dari pada memburu kesenangan duniawi.

Kita mengenal bermacam macam jenis ruwatan, dalam ilmu Kasampurnan tata cara atau prosesinya berbeda dengan ruwatan yang lain. Kalau kita lihat dalam sejarah ruwatan di pewayangan, yang mampu meruwat Bathara Kala dan anak buahnya adalah ‘Dalang Sejati’, atau ‘Dalang Sempurna’ sebenarnya ini arti kiasan, yang dimaksud ‘Dalang Sejati’ atau ‘Dalang Sempurna’ adalah ‘Allah / Ingsun’. Dalam ruwatan perwujudan Sukerta dan Sengka adalah energy negative yang melekat pada diri manusia karena efek dosa kesalahan yang diperbuat. Energi negative itu wujudnya ghaib. Karena ghaib prosesinya harus malam hari dan tanpa penerangan, harus gelap gulita (kalau dilihat dengan mata batin kelihatan terang). Prosesi ruwatan ini membutuhkan uba rampe untuk sesaji atau sebagai lambang, media dan sarana untuk menyedot energy negative yang berbentuk bermacam jenis mahluk halus yang terdapat pada Sukerta dan Sengkala. Adapun uba rampenya sebagai berikut :

  1. Nasi liwet
  2. Nasi asahan dan kerbau satu
  3. Ingkung ayam jago
  4. Telur yang dimasak
  5. Sambal goreng hati
  6. Ketimun, kedele hitam dan rambak
  7. Pisang raja dua sisir
  8. Intuk intuk (gunungan nasi yang atasnya ditancapkan cabe merah besar)
  9. Bubur 7 rupa
  10. Bunga setaman, telon dan liman
  11. Telor ayam kampung 9 butir
  12. Kelapa hijau 2 butir
  13. Sirih komplit, kluwek dan tebu hitam
  14. Jajan pasar, dupa dll ( keseluruhan ini hanya sesaji pokok saja, sangat sederhana).

Tujuan dalam ruwatan ini adalah :

  1. Menghilangkan gangguan dan kesialan (sengkala) dalam hal rejeki, karier, jodoh, penyakit dan godaan godaan dari energy negative yang berupa seperti awan hitam pekat (bentuk ghaib Sengkala), arwah penasaran, arwah, sukma, siluman, jin dll.
  2. Membersihkan tempat tinggal dari gangguan mahluk halus, teluh, santet serta kesialan yang ditujukan pada keluarga.
  3. Menghilangkan (sukerta) / aib dan karma leluhur.
  4. Mendoakan para leluhur biar segera dapat menyatu dengan Dzat Allah.
  5. Memberikan ‘pagar keselamatan’ untuk diri pribadi dan rumah pekarangan.
  6. Menurunkan ‘wahyu kamulyan’ semoga cita cita harapan segera dapat terkabul.

Yang membedakan dengan prosesi ruwatan yang lain adalah bahwa semua Sukerta dan Sengkala yang berupa energy negative yang bentuknya bermacam macam mahluk ghaib kesemuanya ‘disempurnakan’. Dalam arti kembali ke asalnya. Diatas disebutkan yang dimaksud dengan ‘Dalang Sejati’ atau ‘Dalang Sempurna’ adalah ‘Ingsun / Allah’, makanya mampu menyempurnakan, bukan diusir, dipindah atau dimasukkan dalam botol. Jadi seseorang yang mampu meruwat dan berjuluk ‘Dalang Sejati’ harus mampu ‘nunggal Gusti’, menyatukan rasa dengan Allah dengan sebutan ‘Ingsun’, kalau tidak bisa ‘Jumeneng Ingsun’ tidak mungkin mampu meruwat. Ingsun itu sebagai tajalinya Dzat Hyang Maha Suci yang punya kuasa untuk bersabda ‘Kun Faya Kun’ apa yang dicipta dan dikehendaki terjadi. Karena dalam proses ini punya kuasa untuk memanggil dan menyempurnakan semua jenis mahluk ghaib yang disandang manusia karena adanya Sukerta dan Sengkala. Proses sempurnanya mahluk ghaib dalam ruwatan adalah dari roh luluh menjadi nyawa, menjadi sukma, menjadi rahsa, menjadi cahya dan menyatu dengan Dzat Allah.

Berikut urutan upacara ruwatannya dan fungsi sesaji atau uborampe sebagai lambang, media dan sarana bagi mahluk ghaib.

  1. Memohon keselamatan dan mohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa kesalahan yang telah dilakukan ataupun yang akan dilakukan, yang dilambangkan dengan sekul suci ulam sari ( nasi liwet dan ayam ingkung)
  2. Juga untuk mendoakan para leluhur, para suci sampai para nabi. (nasi liwet, telur, sambal goreng dan ayam)
  3. Untuk mengetahui kiblat empat lima pancer yaitu : bumi, api, air angin, juga membersihkan godaan kan kesialan dari empat penjuru mata angin yaitu timur, selatan, barat dan utara. Menarik wahyu kamulyan dari empat penjuru mata angin dan memberi energy positif untuk keselamatan dan ketentreman, dilambangkan dengan (bunga macam macam warna di luar intuk intuk sesuai warna arah mata angin)
  4. Untuk mengetahui saudara kembar yaitu : Aluamah, Amarah, Supiyah, Mutmainah, Perbawa, Pangaribawa, Kumayan, Kekawah, Ari ari, Marmarti, Getih, Tugelan puser. Kita perhatikan supaya tidak ganggu gawe, (dilambangkan dengan telor ayam kampung 7 butir dan kluwek 5 butir).
  5. Untuk mengetahui para Danyang penunggu ghaib di lokasi ruwatan, (nasi dan lauk pauknya).
  6. Membersihkan papan perumahan dari gangguan setan, arwah, sukma,demit, siluman, jim dan lain sebagainya dengan lambang ubarampe (jajan pasar) supaya papan pekarangan bersih dari gangguan mahluk halus, terbebas dari godha rencana, berbagai jenis penyakit, selalu mendapatkan keselamatan.
  7. Menghilangkan sukerta (aib) dan karma leluhur serta penyakit yang berdiam di jiwa raganya dan dilambangkan dengan ubarampe ( kelapa hijau yang didalamnya ada bunga dan telur ayam kampung)
  8. Mendoakan para leluhur dan arwah miskraman agar segera menyatu dengan Dzat Allah dilambangkan dengan ubarampe (bunga setaman)
  9. Memperlancar doa, harapan dan cita cita biar lekas terkabul dilambangkan dengan ubarampe (pisang raja setangkep).

Ubarampe dibutuhkan untuk sarana bisa berhubungan dan untuk menarik mahluk ghaib atau mahluk halus. Dalam prosesi ruwatan tersebut ubarampe yang dimakan hanya sarinya saja atau baunya saja. Prosesi ruwatan tersebut terlihat jelas adanya situasi dan kondisi yang sakral dan punya daya magis tinggi. Karena pada waktu acara dimulai lokasi ruwatan harus gelap, lampu dimatikan semua, karena ini ruwatan ghaib, para peserta memejamkan mata dan merasakan dengan mata bathin, konsentrasi di dalam hati supaya bisa merasakan energy negative yang keluar dari jiwa raganya. Kalau para peserta ruwatan bisa konsentrasi sampai titik wening (dengan pasrah dan berserah diri), maka dengan sendirinya indera keenamnya kebuka dan bisa melihat proses hadirnya para mahluk ghaib sampai meleburnya ke sinar putih. Setelah semua energy negative yang berwujud hahluk ghaib dipanggil dan pada ngumpul di sesaji atau uborampe, (bentuk dari rubeda sengkala godha rencana, penyakit, aib dan siku leluhur, arwah leluhur, miskraman) kemudian disempurnakan oleh 'Peruwat' yang sudah ‘Jumeneng Ingsun’ dan berperan sebagai ‘Dalang Sejati’ yang mampu meruwat Bathara Kala dan anak buahnya. Pada saat pemanggilan mahluk ghaib yaitu perwujudan Sukerta dan Sengkala hawa di sekitar berubah menjadi panas, karena banyak sekali mahluk ghaib yang hadir di situ. Berikut prosesi ruwatannya.

RPS sebagai Petugas Suci Upacara Ruwatan atau sebagai Peruwat yang bertugas sebagai Dalang Sejati duduk menghadap di depan uborampe, tepatnya di depan intuk intuk. Prosesi awal Peruwat yang sudah Jumeneng Ingsun memimpin jalannya upacara suci terlihat seluruh badannya terpancar sinar putih. Setelah itu sinar putih yang besar berbentuk bulat terang benderang keluar dari dada kiri Petugas Ruwat. Sinar putih besar menyelimuti seluruh badan Peruwat. Setelah itu seluruh badan Peruwat berbentuk bundar dengan cahaya yang terang benderang. Dari atas langit terbuka dan turunlah 8 Para Suci yang memakai baju kebesaran suci, dan duduk di belakang Peruwat yang tugas sebagai Dalang Sejati. Jika dilihat selama prosesi upacara suci, langit akan terbuka hingga berakhirnya prosesi upacara suci, dan jika dilihat lebih seksama wujud dari Peruwat menghilang dan berubah menjadi sinar bundar yang sangat terang. Banyak ghaib yang datang dari berbagai wilayah yang terdiri dari bermacam-macam bentuk dan level kekuatan berjejer rapi sesuai dengan tingkatan levelnya. Dan yang terdepan terlihat tingkatan suci yang terdiri dari Para Suci atau Petugas Suci, disusul oleh tingkatan lainnya.

Setelah itu di depan Peruwat memimpin upacara suci terdapat uborampe intuk-intuk, dari dada kiri Peruwat keluar sinar yang memancar keluar dan menerangi intuk-intuk tersebut. Intuk-intuk memancarkan sinar putih yang sangat terang tegak lurus ke atas, karena besarnya sinar yang memancar dari intuk-intuk dapat terlihat oleh semua ghaib yang berada jauh dari tempat upacara. Makanya setiap ada upacara suci tersebut, ribuan ghaib akan datang dari berbagai tempat. Kemudian dari dada kiri RPS keluar sinar putih dan masuk ke dalam dada kiri tiap peserta. Jika dilihat sinar putih tersebut berbentuk lingkaran dengan huruf sansekerta kuno yang berbunyi “ inilah ciptaan suci TUHAN “ yang mempuyai arti tiap ciptaan dari sang kuasa tercipta suci, hanya karena tingkah dan polah manusia menjadikan manusia tidak suci dihadapan TUHAN. Setelah sinar tersebut masuk akan terlihat perubahan dalam tiap peserta, tiap peserta akan terlihat memakai baju sesuai dengan tingkatan. (ternyata dalam alam ghaib kasta berlaku) Selain itu fungsi dari sinar putih tersebut berfungsi sbb:

  • Berfungsi sebagai perlindungan agar tiap peserta tidak terkena gangguan dari mahluk ghaib yang ribuan jumlahnya (kesurupan)
  • Berfungsi sebagai perlindungan agar tiap peserta tidak terkena energy negative yang dikeluarkan oleh ribuan mahluk ghaib yang datang.

Setelah itu Peruwat berdoa memohon ampun kepada Allah atas dosa kesalahan yang telah ataupun yang akan diperbuat oleh semua peserta ruwatan. Kemudian dari dada kiri RPS keluar sinar putih dan masuk ke dalam dada kiri tiap peserta. Jika dilihat dengan mata batin, maka akan terlihat sinar putih berbentuk bundar dengan huruf suci ( huruf sansekerta kuno yang diterjemahkan mempuyai arti “ inilah mahluk ciptaan Tuhan yang sempurna” yang mempunyai arti setiap manusia tercipta sempurna hanya karena tingkah dan polah manusia sendiri menjadikan manusia tidak sempurna dihadapan TUHAN, berputar melingkari semua peserta. Setelah itu di atas kepala tiap peserta terbentuk sinar putih bundar.

Setelah itu RPS memanggil semua leluhur para peserta ruwatan yang akan ikut upacara suci. Maka akan terlihat bentuk visual dari leluhur yang meminta upacara suci ini, bentuk visual tersebut ada yang ayah ibu, kakek, nenek dan semua leluhur yang telah meninggal. Setelah semua berkumpul ( biasanya jauh hari sebelum adanya upacara suci, semua leluhur sudah berkumpul, menunggu upacara suci ini) dari dada kiri peruwat memancar sinar kemilau putih, yang menerangi tertuju pada intuk-intuk, Setelah menghormat pada petugas ruwatan, satu persatu semua leluhur atau garis keturunan yang telah meninggal, masuk dalam sinar putih yang terpancar tegak lurus.

Prosesi selanjutnya menghilangkan energy negative perwujudan dari sengkala jika dilihat dengan mata batin akan terlihat dari dada Peruwat terpancar sinar bundar keluar dan masuk dalam tiap peserta. Setelah dimasuki sinar putih tersebut setiap peserta akan mengeluarkan bermacam-macam ghaib yang keluar dari tubuh peserta. Jika kita bisa mencapai tahap wening, maka akan terlihat mahluk apa yang keluar dari tubuh kita. Setelah semua mahluk yang ada didalam tubuh tiap peserta keluar, setiap peserta yang dimasuki sinar putih tersebut akan memancar sinar tegak lurus di tiap kepala peserta. Setelah itu terdapat saudara kembar tiap peserta yang datang dari timur, barat, selatan dan utara yang memasukkan sinar putih ke dalam jiwa raga peserta. Hasilnya jika diliat oleh mata batin badan kita akan terlihat lebih segar, setelah itu tiap peserta seluruh badannya terbungkus sinar putih.

Selanjutnya Peruwat memanggil semua saudara kembar yang berjumlah 12. Kemudian saudara kembar peserta memasukan sinar putih (wujud dari wahyu dari sang kuasa, rejeki) ke jiwa raga para peserta ruwatan. Setelah masuk seluruh saudara kembar para peserta secara berurutan akan menghaturkan terima kasih kepada petugas ruwatan. Setelah itu saudara kembar para peserta masuk ke sinar putih tegak lurus yang terpancar dalam intuk-intuk.

Setelah itu RPS akan memangil secara berurutan para mahluk ghaib penunggu wilayah

  • Danyang atau penguasa wilayah tempat prosesi upacara yang akan terlihat mahluk yang datang beserta semua pengikutnya menggunakan baju kebesaran, menyembah dan menghaturkan terima kasih kepada Peruwat yang bertugas sebagai Dalang Sejati dan mengijinkan untuk menyantap uborampe, setelah itu mahluk tersebut masuk kedalam sinar tegak lurus di atas intuk-intuk.
  • Semua mahluk yang berdiam di tempat tinggal atau tempat prosesi upacara, yang bermacam bentuknya akan menyembah dan menghaturkan terima kasih. Dan Peruwat mengijinkan untuk menyantap uborampe setelah itu mahluk tersebut masuk kedalam sinar tegak lurus yang terpancar dari intuk-intuk.
  • Mahluk yang berdiam di tempat yang berwujud bayi atau anak kecil, dengan proses sama akan masuk dalam intuk-intuk

Berikut ini berbagai jenis mahluk yang berdiam di dalam prosesi tempat upacara.

  • Jenis Jin yang bermacam-macam bentuk akan terlihat mendekati uborampe hio, bunga dan tebu ireng.
  • Jenis Siluman yang bermacam-macam bentuknya akan terlihat mendekati daging / kebo siji dan nasi asahan.
  • Jenis Arwah-arwah penasaran, penunggu dan peguwasa ghaib yang bermacam bentuknya akan terlihat mendekati jajan pasar dan bunga.
  • Jenis Sukma yang terlihat dari kembaran tiap peserta akan mendekati jenang 7 rupa dan telur dalam intuk-intuk.
  • Jenis Penyakit, Teluh atau sejenisnya akan mendekati kelapa muda.
  • Jenis Arwah atau Sukma yang masih ada hubungan darah atau keturunan mendekati bunga setaman dan nasi liwet.

Kemudian dilanjutkan dengan membersihkan papan perumahan dari gangguan setan, arwah, sukma, demit, siluman, jim dan lain sebagainya. Jika dilihat akan terlihat bermacam-macam jenis mahluk ghaib yang mendiami tempat yang sudah dijelaskan di atas dan prosesnya sebagai berikut :

  • Dada kiri peruwat akan memancarkan sinar putih bundar ke atas dan akan mengembang menutup tempat prosesi upacara suci, yang akan terlihat setengah lingkaran.
  • Setelah itu akan turun dari atas 4 mahluk Para Suci yang akan menjaga atau membersihkan tempat prosesi upacara.

Selanjutnya menghilangkan sukerta (aib) dan karma leluhur serta penyakit yang berdiam di jiwa raganya. Jika dilihat akan terlihat dari tempat prosesi upacara bentuk mahluk yang masih ada hubungan darah dengan peserta atau mahluk kiriman dari luar yang bermacam bentuknya. Juga mahluk yang berada dalam tiap peserta akan keluar dan menghaturkan sembah dan ucapan terima kasih ke petugas ruwatan, setelah itu masuk ke dalam intuk-intuk

Mendoakan para leluhur dan arwah miskraman agar segera menyatu dengan Dzat Allah. Jika dilihat akan keluar sinar putih dari tiap leluhur dan terlihat lebih segar dari tiap peserta, menghaturkan sembah dan terima kasih kepada peruwat setelah itu masuk kedalam intuk-intuk yang berbentuk sinar bulat ke atas

Dan prosesi yang terakhir menurunkan wahyu kamulyan yaitu kalau dilihat secara ghaib akan terlihat Dari dada kiri Peruwat mengeluarkan sinar putih dan masuk ke dalam intuk-intuk dari dalam intuk-intuk keluar tegak lurus ke atas, dari atas turun Para Suci yang berjumlah 4 yang menebarkan harum wangi dan dari tiap-tiap peserta dari dada kiri memancar sinar putih. Yang menyelimuti tiap peserta masuk ke nadi dan seluruh tubuh, perubahan fisik peserta bisa dilihat secara kasat mata akan terlihat tiap peserta yang mengikuti upacara suci dengan tulus akan memancar wajah yang lebih segar. Selain itu dari dada kiri Peruwat memancar sinar ke atas setelah itu sinar tersebut turun dan membentuk garis persegi empat yang dilihat akan memancar dalam tanah berfungsi sebagai pelindung atau pagar yang ada di dalam tempat prosesi.

Setelah prosesi ruwatan selesai dan 'Peruwat' menurunkan ‘kamulyan’, hawa di sekitar berubah menjadi dingin sampai prosesi menurunkan ‘pagar’ keselamatan diri pribadi dan selesai. Setelah selesai lampu dinyalakan kembali, kemudian melabuh sesaji yang ada sisebelah kiri 'Peruwat' yaitu intuk intuk, kelapa hijau, bunga setaman dan jajan pasar. Sedangkan untuk nasi, ayam, telor, sambal goreng dan pisang raja kita bagikan kepada seluruh peserta ruwatan.

Jadi ruwatan ini diyakini sebagai sarana pembebasan dan pencucian diri dari segala malapetaka dan kesialan hidup, juga menghilangkan aib atau karma leluhur, mendoakan para leluhur, bersedekah, berdoa memohon untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan wahyu kamulyan dari Allah SWT.

Rahayu, rahayu, rahayu.